Klenteng


1. Klenteng Hok Tek Bio

Klenteng Hok Tek Bio Ciampea ‘ditemukan’ secara tidak sengaja ketika dalam perjalanan mencari lokasi Prasasti Ciaruteun di daerah Ciampea. Adalah ketika bertanya arah di sekitar pasar Ciampea, dan ketahuan bahwa belokan ke Prasasti Ciaruteun sudah terlewat, maka mobil pun mencari ruang untuk berbalik arah, dan masuklah kami ke sebuah halaman gedung yang ternyata adalah halaman Klenteng Hok Tek Bio Ciampea.

Bangunan Klenteng Hok Tek Bio Ciampea ada di bagian tengah, sedangkan di sebelah kiri adalah gedung Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, yang pada waktu itu pintunya tertutup rapat.

Altar yang berada di bagian sebelah kanan di dalam ruang utama Klenteng Hok Tek Bio Ciampea. Klenteng Hok Tek Bio Ciampea ini, yang artinya adalah rumah ibadah yang memberi rejeki dan kebajikan, memiliki tiga altar sembahyang.

Tuan rumah Klenteng Hok Tek Bio Ciampea adalah Hok Tek Tjeng Sien, Dewa Bumi, yang berada di bagian tengah. Kongco Hok Tek Ceng Sien dipercaya sebagai pelindung orang miskin, yang konon orang akan mudah terkabul doanya jika memohon rizki lewat perantaranaan Kongco Hok Teng Ceng Sien ini. Bagi para petani, bersembahyang di altar Hok Tek Ceng Sien akan membuat panen mereka berhasil, ternak peliharaan pun akan berkembang biak dengan baik.

Di sebelah kiri adalah tempat sembahyang kepada Kongco Kwan Kong, seorang Jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Kwan Kong adalah salah satu Dewa yang dipuja oleh tiga agama (Sam Kauw) sekaligus. Penganut Buddha menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan2 Suci, pengikut Tao menjunjungnya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan, dan kaum Confusianist memujanya sebagai seorang suci dan teladan dalam hal kesetiaan, kebenaran dan keberanian.

Tempat pemujaan Eyang Raden Suryakencana yang berada di bagian belakang Klenteng Hok Tek Bio Ciampea. Eyang Raden Suryakancana adalah karuhun orang Sunda yang diyakini masyarakat Sunda bersemayam di Gunung Gede. Adanya altar sembahyang untuk Eyang Raden Suryakancana di Klenteng Hok Tek Bio Ciampea menunjukkan bahwa etnis Cina di jaman dulu sangat menghormati kepercayaan penduduk setempat.

Klenteng Hok Tek Bio Ciampea dibangun pada abad ke-19 oleh leluhur marga Thung, yaitu Thung Tiang Mie (1793 – 1856) atau Tubagus Abdullah bin Moestopa, dan merupakan klenteng paling tua di Ciampea. Sebuah tengara di dinding depan menunjukkan bahwa bangunan Klenteng Hok Tek Bio Ciampea ini direnovasi pada 11 Juni 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: