Wisata Lain


1. Kampung Naga


Di tengah derasnya laju budaya global yang menggerus budaya lokal, ternyata masih ada sekelompok masyarakat yang tetap teguh mempertahankan adat istiadat serta tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk laju globalisasi. Kelompok masyarakat tersebut tetap bersetia dan bertahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan, serta menjalankan semua tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka adalah penduduk Kampung Naga.

Kampung Naga merupakan sebuah kampung atau desa tradisional yang terletak di tepi jalan raya Garut-Tasikmalaya. Disebut tradisional karena mereka masih konsisten dalam mempertahankan adat istiadat serta budaya leluhur. Hal ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Penduduk Kampung Naga juga hidup pada suatu tatanan yang penuh nuansa kesederhanaan. Bagi masyarakat Kampung Naga, kepatuhan dalam menjalankan adat merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur (karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan yang dihuni sekitar 311 jiwa ini terletak di lembah subur di tepi Sungai Ciwulan. Perkampungan ini terbagi dalam beberapa wilayah seperti wilayah hutan, sungai, persawahan, dan perumahan. Setiap area memiliki batas-batas tersendiri dan tidak boleh dilanggar. Karena, dalam kepercayaan mereka, di tiap batas wilayah terdapat makhluk halus sebagai penunggunya. Jika batas dilanggar, makhluk halus tersebut akan marah sehingga terjadilah petaka. Oleh karena itu, penduduk tidak boleh mendirikan rumah di area persawahan, begitu pula sebaliknya, karena hal ini berarti melanggar ajaran karuhan.

Di Kampung Naga terdapat 111 bangunan yang terdiri dari 108 rumah hunian, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan, dan lumbung diletakkan sejajar menghadap ke arah timur-barat. Di depan bangunan-bangunan tersebut terdapat halaman luas yang digunakan untuk upacara adat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan.

Rumah-rumah di Kampung Naga berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan anyaman bilah bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana namun tertata apik, sehingga udara dan cahaya tersirkulasi dengan baik. Selain itu, bangunan di Kampung Naga ini juga tahan gempa. Hal itu terbukti saat gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Tasikmalaya pada Rabu, 2 September 2009 silam, tak ada satu pun rumah warga Kampung Naga yang roboh atau mengalami kerusakan yang berarti. Oleh karena itu, Kampung Naga akan dijadikan percontohan sertifikasi desain arsitektur bangunan hijau dan hemat energi Indonesia oleh Green Building Council of Indonesia (GBCI).

B. Keistimewaan

Daya tarik utama yang dimiliki oleh Kampung Naga adalah suasananya yang sangat tenang dan damai, di mana masyarakatnya masih berpegang teguh pada tradisi serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal – satu hal yang sudah sulit ditemui di perkampungan modern dewasa ini.  Sebelum Anda menjejakkan kaki di wilayah perkampungan, Anda harus berjalan menuruni beratus-ratus sengked (anak tangga) yang cukup curam, sehingga saat hujan turun Anda harus berhati-hati jika tidak mau terpeleset dan terjatuh. Namun, perjuangan Anda tidaklah sia-sia, karena di sepanjang jalan Anda akan disuguhi dengan panorama yang sangat mempesona. Sawah menghijau, Sungai Ciwulan yang mengalir berkelak-kelok, kicau burung, gemericik air mengalir, hembusan angin, semuanya menghasilkan komposisi nyanyian alam yang indah.

Di Kampung Naga terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, antara lain tidak boleh berkata sembarangan, tidak boleh mengganggu hewan yang ada, dan tidak boleh mematahkan ranting-ranting pohon. Peraturan itu tidak hanya untuk wisatawan saja, melainkan juga berlaku bagi penduduk lokal. Bahkan, bagi penduduk asli Kampung Naga terdapat lebih banyak peraturan atau yang mereka sebut sebagai pamali. Sebagai contoh, mereka tidak boleh mengecat rumah mereka kecuali menggunakan kapur, tidak boleh membangun rumah menggunakan batu bata dan semen, tidak boleh mengadakan pertunjukan seni selain kesenian asli Kampung Naga, dan masih banyak peraturan lainnya. Bagi orang luar aturan tersebut mungkin terlihat tidak masuk akal, namun justru beranjak dari pamali dan kearifan lokal itulah kelestarian Kampung Naga tetap terjaga.

Selain itu, hampir sama dengan masyarakat Badui, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang maupun peralatan modern masuk ke kampung mereka. Bahkan, jaringan listrik pun tidak diperkenankan masuk ke kampung ini. Oleh karena itu, saat malam tiba suasana menjadi begitu gelap. Hanya ada sinar teplok atau lentera sebagai penerang utama di rumah-rumah. Sedangkan untuk penerangan di jalan-jalan, mereka terbiasa menggunakan suluh. Namun, justru itulah yang menjadi keunikan ketika Anda menginap di kampung ini – suasana perdesaan yang benar-benar menyatu dengan alam.

Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, tak jauh dari Kampung Naga terdapat dua air terjun kecil yang berfungsi sebagai pembatas wilayah dan sumber pengairan pada musim kemarau. Anda bisa bermain-main di air terjun ini. Namun, menjelang maghrib Anda harus bergegas, karena ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat bahwa barang siapa yang mandi di air terjun tersebut menjelang maghrib pasti akan kesurupan.

Sebagai warga sebuah kampung adat, penduduk Kampung Naga juga kerap melaksanakan upacara adat. Upacara tersebut biasa dilaksanakan pada bulan Maulud dan Syawal (kalender Hijriah). Wisatawan yang ingin menyaksikan upacara tersebut harus mematuhi semua peraturan yang berlaku selama upacara adat berlangsung.

C. Lokasi

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Terletak di jalan raya Garut-Tasikmalaya membuat Kampung Naga mudah untuk dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Kampung ini terletak di lembah Sungai Ciwulan, berjarak sekitar 500 meter di bawah jalan raya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya sekitar 30 kilometer dan 26 kilometer dari Kota Garut. Sedangkan dari Bandung, Kampung Naga berjarak 90 km.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga tidak perlu membayar tiket masuk. Disarankan, wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga agar tidak datang pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari-hari tersebut masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepi, yakni usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Walaupun Kampung Naga merupakan obyek wisata yang cukup populer di Jawa Barat, hingga saat ini tidak ada aliran listrik di Kampung Naga. Wisatawan yang ingin menginap di kampung ini harus minta izin kepada kuncen (sesepuh kampung) jauh-jauh hari dan bersiap dengan fasilitas yang seadanya, namun justru sangat dekat dengan alam.

Sebagian besar penduduk Kampung Naga berbicara dalam bahasa Sunda, oleh karena itu bagi wisatawan yang tidak bisa berbahasa Sunda disarankan menyewa jasa pemandu. Di tempat ini terdapat banyak pemandu yang bisa menemani perjalanan Anda. Jumlah tarif fleksibel dan bisa dibicarakan.

Meskipun Kampung Naga terletak jauh di bawah jalan raya, jika Anda membawa kendaraan pribadi Anda tidak perlu khawatir. Di pintu gerbang Kampung Naga terdapat pelataran luas yang dijadikan tempat parkir kendaraan pengunjung. Di seputaran tempat parkir terdapat kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya buatan penduduk Kampung Naga serta warung makan.

 

2. Kebun Raya Bogor


Menyebut Kebun Raya Bogor, ingatan kita serta merta akan tertuju pada kebun raya pertama di Asia Tenggara yang juga menjadi lokasi Istana Bogor. Sejarah Kebun Raya dan Istana Bogor memang saling terkait erat. Pembangunan Istana Bogor bermula ketika Gubernur Jendral van Imhoff menginginkan tempat rehat yang nyaman di sebuah lokasi yang berhawa sejuk. Maka pada tahun 1745 ia menemukan areal perbukitan yang dia sebut Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Di tempat inilah kemudian dibangun sebuah pesanggrahan yang selanjutnya dikembangkan menjadi lebih luas dan megah oleh Gubernur Jendral Willem Daendels (1808-1811), Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816), dan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826). Pada masa Daendels didatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal untuk memperindah lingkungan Istana Bogor. Sementara pada masa Raffles dirintis sebuah taman yang menjadi cikal bakal kebun raya di lingkungan Istana Bogor (http://www.presidensby.info).

Sebelum dikembangkan lebih jauh oleh para penguasa kolonial, sebenarnya cikal bakal Kebun Raya Bogor telah ada sejak abad ke-15, ketika Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi yang memerintah antara 1474-1513, membuat hutan atau taman buatan yang disebut samida. Dalam prasasti Batutulis disebutkan, hutan buatan ini ditujukan untuk menjaga kelestarian benih-benih kayu langka yang diperlukan oleh kerajaan. Ketika Kerajaan Siliwangi (Sunda) takluk terhadap Banten, hutan inipun tidak terurus.

Pada masa pemerintahan Raffles, lingkungan Istana Bogor disulap menjadi taman bergaya Inggris klasik dengan bantuan seorang ahli botani dari Inggris, W. Kent. Gubernur jenderal yang dikenal memiliki minat besar terhadap ilmu pengetahuan ini menjadikan lingkungan istana sebagai sarana untuk meneliti berbagai tanaman yang hidup di kawasan Hindia Belanda. Hingga sekarang, wisatawan masih bisa menyaksikan salah satu peninggalan Raffles di Kebun Raya Bogor, yakni Monumen Olivia Raffles, sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang mendiang istri Raffles yang meninggal pada 1814 (http://id.wikipedia.org).

Setelah Raffles, giliran van der Capellen yang mengembangkan lingkungan Istana Bogor secara lebih serius. Pada tanggal 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama s‘Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pendirian kebun raya ditandai dengan menancapkan ayunan cangkul pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kebun tersebut. Pembangunan kebun raya dipimpin langsung oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang ahli botani dan kimia yang menjadi Menteri Bidang Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Reinwardt memimpin Kebun Raya Bogor antara tahun 1817 sampai 1822. Pada masa kepemimpinannya itu, ia mengelola areal sekitar 47 hektare serta mengumpulkan tanaman dan benih dari berbagai tempat di Nusantara. Kebun Raya Bogor kemudian menjadi pusat pengembangan pertanian dan holtikultura di Hindia Belanda, dengan sekitar 900 jenis tanaman dikembangkan di kebun raya ini (http://id.wikipedia.org).

Setelah Reinwardt, Kebun Raya Bogor dipimpin oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang mulai melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di Kebun Raya Bogor. Usaha pencatatan ini berhasil membukukan sekitar 912 jenis (spesies) tanaman. Namun, pada perkembangannya Kebun Raya Bogor sempat mengalami kekurangan dana. Persoalan minimnya dana ini mulai teratasi setelah Johannes Elias Teijsmann, seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, mengambil alih kepemimpinan Kebun Raya Bogor pada tahun 1831. Pada masanya, Teijsmann mengelompokkan tanaman berdasarkan suku (familia).

Setelah Teijsmann, berturut-turut Kebun Raya Bogor dipimpin oleh Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949) (http://id.wikipedia.org). Nama terakhir ini merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai pimpinan kebun raya yang saat itu telah diakui keberadaannya secara internasional. Pada masa kepemimpinan tokoh-tokoh ini, Kebun Raya Bogor berhasil mengumpulkan berbagai tanaman yang berguna dan bernilai secara ekonomis, seperti vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung, serta kayu besi.

Pengelola Kebun Raya Bogor juga mengembangkan kelembagaan internal demi mengkhususkan pada pengembangan objek kajian tertentu. Lembaga-lembaga tersebut antara lain jawatan Herbarium, Museum, Laboratorium Botani, Kebun Percobaan, Laboratorium Kimia, Laboratorium Farmasi, Cabang Kebun Raya di Sibolangit (Deli Serdang), Cabang Kebun Raya di Purwodadi (Kabupaten Pasuruan), Perpustakaan dan Tata Usaha, serta Pendirian Kantor Perikanan dan Akademi Biologi yang merupakan cikal bakal Insitut Pertanian Bogor (IPB).

Kerusakan akibat bencana badai pernah dialami Kebun Raya Bogor pada 1 Juni 2006. Badai kencang menerjang areal kebun raya hingga menumbangkan sekitar 124 pohon besar yang sebagian di antaranya berusia di atas 100 tahun. Pohon-pohon tua tersebut tumbang dan merusak berbagai tanaman lain serta sarana dan fasilitas di kebun raya. Akibat kerusakan yang menimbulkan kerugian miliaran rupiah tersebut, Kebun Raya Bogor sempat ditutup untuk sementara waktu.

B. Keistimewaan

Kebun Raya Bogor merupakan habitat seluas 87 hektare bagi sekitar 3.504 spesies tumbuhan, yang terbagi ke dalam 1.273 genera dan 199 famili. Tidak mengherankan jika kebun raya ini tercatat sebagai kebun botani terbaik keenam di dunia dan terbaik pertama di Asia Tenggara. Koleksi yang kaya dengan areal yang begitu luas tentu saja menjadi daya tarik bagi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Obyek wisata ini cocok bagi Anda yang ingin berlibur bersama keluarga. Arealnya yang luas bisa untuk bermain dan bersantai sembari menghirup udara segar, sedangkan berbagai koleksi tumbuhan dan hewan awetan yang dimiliki oleh kebun raya ini merupakan sarana pendidikan yang menarik dan cocok bagi semua kalangan.

Memasuki gerbang utama Kebun Raya Bogor, Anda akan disambut oleh dua patung Ganesha yang melambangkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan dalam kepercayaan Hindu. Nah, dari pintu gerbang ini wisatawan dapat memilih beberapa rute untuk ditelusuri. Mengingat arealnya yang luas, sebaiknya Anda memilih untuk melewati beberapa rute saja, sehingga dapat lebih fokus menikmati kawasan yang Anda lalui. Terdapat empat rute jalan kaki sebagaimana ditulis di dalam buku Panduan Kebun Raya Bogor yang terbit tahun 1997.

Rute Pertama dimulai dari gerbang utama. Rute ini dapat dilalui kereta anak dan kursi roda, sehingga bagi Anda yang membawa anak atau pengunjung yang menggunakan kursi roda dapat memilih rute ini. Dari pintu utama wisatawan akan memasuki jalan setapak sepanjang 450 meter dengan nama jalan kenari I. Nama ini diambil dari pohon-pohon kenari (Canarium commune) yang menghiasi bagian kanan-kiri jalan. Di perempatan pertama, wisatawan belok ke arah kiri, memasuki sebuah jalan setapak yang dilengkapi pergola (para-para peneduh dengan tanaman merambat). Di musim hujan, pergola  tersebut akan semakin indah dengan bunga-bunga berwarna hijau yang mulai mekar.

Berjalan lurus dari jalur ini, wisatawan akan berjumpa dengan Laboratorium Treub yang khusus digunakan untuk penelitian fisiologi dan biokimia tumbuhan. Nama laboratorium ini diambil dari nama pendirinya, yakni Prof. Dr. Melchior Treub. Di sebelahnya berdiri bekas rumah direktur kebun raya pada jaman kolonial, yang dibangun pada 1884, bersamaan dengan pendirian Laboratorium Treub. Bekas rumah direktur kebun raya tersebut saat ini telah difungsikan sebagai rumah inap yang dapat disewa oleh masyarakat umum.

Di seberang rumah inap terdapat rimbunan tumbuhan yang salah satunya adalah maskot Kebun Raya Bogor, yaitu Amorphophallus titanum alias bunga bangkai. Bunga yang berasal dari Sumatra ini termasuk ke dalam suku talas-talasan (Araceae). Dalam bidang botani, bunga raksasa ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1878 oleh seorang ahli botani asal Italia bernama Beccari. Namun, baru 37 tahun kemudian, yakni tahun 1915, Kebun Raya Bogor mulai mengoleksi tanaman ini. Bunga bangkai memang istimewa. Bunga dengan tinggi hingga 2 meter ini hanya muncul dengan siklus antara 2-5 tahun. Selain identik dengan bau bangkainya yang menyengat, bunga ini memiliki warna-warni yang mempesona: paduan antara ungu lembayung, kuning, merah, dan hijau kekuning-kuningan.

Berjalan terus dari kompleks bunga bangkai, kemudian berbelok ke arah kanan, wisatawan akan sampai di ujung Jalan Kenari I. Dari tempat ini, para pelancong dapat menikmati pemandangan halaman belakang Istana Bogor, yang makin cantik dengan keberadaan kawanan rusa bertutul putih (Axis-axis) yang berkeliaran di padang rumput. Rusa-rusa ini merupakan hasil pengembangbiakan rusa-rusa yang dibawa Gubernur Jenderal Daendels dari perbatasan India dan Nepal.

Rute Kedua juga dimulai dari perempatan pertama Jalan Kenari I. Namun bedanya, jika rute pertama berbelok ke arah kiri, maka rute kedua berbelok ke arah kanan. Berjalan sekitar 20 meter dari perempatan tersebut, pengunjung akan sampai pada lokasi pohon kempas atau kayu raja (Koompassia excelsa). Pohon yang berasal dari Kalimantan ini adalah pohon raksasa dengan tinggi mencapai 50 meter dan diamater 1,5 meter. Usia pohon ini mencapai 85 tahun, dan dikenal sebagai pohon yang kuat, keras, dan berat.

Usai menikmati pemandangan pohon raksasa yang tinggi menjulang, pengunjung dapat beralih ke Blok II A dan Blok II C yang menyajikan tanaman-tanaman penghasil serat rami yang biasa digunakan untuk tali, tikar, dan jaring ikan. Belok kanan dari blok ini, pelancong akan disuguhi koleksi pandan yang tatanannya cukup indah. Setelah itu, pelancong akan melewati jembatan yang melintas di atas Sungai Ciliwung yang mengarah ke Kolam Victoria, di mana terdapat bunga teratai raksasa (Victoria amazonica) yang berasal dari hutan Amazon, Brazil. Teratai raksasa ini bergaris tengah antara 1-1,5 meter, sementara bunganya yang berwarna putih muncul seminggu sekali. Bunga tersebut cukup unik karena dalam tempo 2-3 hari berganti warna menjadi merah jambu.

Keunikan lainnya jika wisatawan melintasi rute dua adalah keberadaan pohon tertua di Kebun Raya Bogor, yakni pohon leci (Litchi chinensis). Pohon ini terletak di pinggir Kolam Gunting dan ditanam sekitar tahun 1823, atau sekitar 186 tahun yang lalu. Pohon yang dibawa dari Cina ini tumbuh dalam kondisi baik hingga saat ini. Namun, karena usianya yang terbilang tua, pohon leci tersebut tidak lagi berbuah.

Rute Ketiga mengikuti jalur rute kedua hingga areal Blok I. Dari Blok I, rute ketiga mengambil jalur lurus menuju Taman Meksiko. Di taman ini terdapat berbagai macam tanaman dari daerah kering di Amerika Latin. Dari Taman Meksiko wisatawan akan melewati jembatan gantung pertama menuju sebuah kawasan yang mirip dengan hutan. Di hutan ini ada tumbuhan paku-pakuan, tanaman rempah-rempah, hingga kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri). Kayu ulin terkenal kuat dan mampu bertahan hingga 80 tahun. Tak heran jika kayu ini sering digunakan sebagai bahan untuk bantalan rel kereta api.

Selepas hutan, pengunjung akan melewati Kolam Victoria, kemudian menyeberangi Sungai Ciliwung melalui jembatan gantung kedua. Setelah melintasi Sungai Ciliwung, pelancong akan diperlihatkan koleksi sekitar 288 spesies palem yang dimiliki oleh kebun raya ini. Jumlah koleksi tersebut merupakan jumlah koleksi palem terbesar di dunia. Beberapa di antaranya adalah pohon aren dan lontar yang merupakan pohon penghasil gula. Selain itu, ada juga pohon kelapa dan kelapa sawit. Yang menarik, kelapa sawit yang ditanam di perkebunan-perkebunan di Asia Tenggara merupakan turunan dari koleksi pertama pohon sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Namun sayangnya, pohon sawit pertama tersebut telah mati pada 15 Oktober 1989.

Hal lain yang dapat dilihat di rute ketiga ini adalah pohon kalong atau pohon damar (Agathis dammara). Dinamakan pohon kalong karena pohon tersebut merupakan tempat berlindung kalong buah (Pteropus vampyrus) yang biasanya mencari makan pada malam hari. Hewan ini termasuk kelelawar besar dengan moncong mirip anjing dan rentang sayap mencapai 1,5 meter. Kalong buah biasanya mencari tempat berlindung di pohon-pohon yang tinggi, salah satunya pohon-pohon damar tersebut.

Rute Keempat adalah rute penjelajahan yang dimulai dari Cafe Botanicus, mengikuti jalan beraspal menuju ujung Jalan Astrid. Dari Jalan Astrid, wisatawan mengikuti jalan beraspal yang berada di sisi taman rumput. Di sekitar taman rumput terdapat anggrek macan yang menempel di sebatang pohon. Anggrek macan cukup istimewa karena memiliki panjang tangkai bunga antara 1-2 meter. Setiap tangkai biasanya memiliki lebih dari 100 bunga, sehingga dapat memantik kagum siapapun yang melihatnya. Bunga anggrek ini hanya berbunga setiap dua tahun sekali.

Usai menikmati bunga anggrek macan, wisatawan akan melintasi jembatan gantung. Namun, sebelum itu, Anda dapat menikmati pemandangan Jalan Kenari II yang di kanan-kirinya ditumbuhi pohon kenari. Uniknya, pohon-pohon kenari tersebut dililit oleh liana yang merupakan tanaman merambat dengan batang kayu rambat yang kuat. Liana ini juga dikenal dengan sebutan “pohon Tarzan”, karena dalam film Tarzan tanaman merambat ini digambarkan sebagai sarana Tarzan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Melewati jembatan gantung, pelancong akan sampai di makam Mbah Jepra yang dilingkupi dua pohon raksasa. Pohon pertama berjenis beringin (Ficus albipila) tetapi berkulit licin coklat-hijau. Beringin unik ini diduga merupakan spesimen satu-satunya di Indonesia. Sementara satu lagi adalah pohon meranti bunga (Shorea leprosula). Dua pohon raksasa ini ditanam sekitar tahun 1870. Usai menikmati lingkungan makam Mbah Jepra, pengunjung kemudian mengikuti jalan setapak menuju sisi lain dari halaman Istana Bogor. Di tempat ini, wisatawan dapat menonton rusa-rusa bertutul putih yang sedang merumput di halaman istana.

Selain memiliki koleksi ribuan tanaman dari dalam dan luar negeri, Kebun Raya Bogor juga merupakan habitat bagi beraneka jenis burung. Terdapat sekitar 50 jenis burung hidup dan berkembangbiak secara alami di tempat ini. Beberapa di antaranya adalah kepodang, walik kembang, kutilang, kowak, dan kuntul.

Tak hanya burung-burung yang hidup secara alami, Kebun Raya Bogor mengembangkan pula koleksi berupa replika binatang dan koleksi awetan binatang yang dipamerkan di Museum Zoologi. Museum ini misalnya memamerkan replika kerangka tulang ikan paus raksasa yang terdampar di perairan Indonesia. Di samping replika tiruan, Museum Zoologi juga memamerkan berbagai jenis binatang awetan, seperti serangga, reptil, unggas, cacing, hingga mamalia.

C. Lokasi

Kebun Raya Bogor terletak di jantung Kota Bogor, yaitu di Jalan Ir. H. Juanda No. 13, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Pengelolaan kebun raya ini berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, wisatawan dapat menghubungi Bagian Jasa dan Informasi Kebun Raya Bogor di nomor telepon/fax 0251-8311362.

D. Akses

Wisatawan yang berminat mengunjungi Kebun Raya Bogor dapat menempuh perjalanan dari Jakarta. Dari ibu kota negara ini, Anda dapat menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan kendaraan umum (bus maupun kereta api). Sarana transportasi umum Jakarta-Bogor umumnya cukup ramai, sehingga wisatawan tak perlu khawatir kesulitan memilih kendaraan yang diinginkan. Sesampainya di terminal atau stasiun di Kota Bogor, wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan kota atau taksi untuk menuju Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

E. Harga Tiket

Tiket masuk Kebun Raya Bogor adalah Rp10.000,00 per orang. Harga tiket ini sudah termasuk bea masuk Museum Zoologi, sehingga bagi Anda yang telah membeli tiket Kebun Raya Bogor digratiskan untuk menikmati koleksi Museum Zoologi. Namun, jika wisatawan sekedar ingin mengunjungi Museum Zoologi (tidak mengunjungi kebun raya secara keseluruhan), pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk museum sebesar Rp1.500,00 per orang. Selain tiket masuk, pelancong yang membawa kendaraan pribadi akan dikenakan biaya tambahan parkir sebesar Rp5.000 untuk setiap kendaraan.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Kebun Raya Bogor telah dilengkapi fasilitas pendukung berupa rumah inap dan restoran. Rumah inap yang merupakan bekas rumah direktur kebun raya pada jaman kolonial tersebut dapat disewa oleh masyarakat umum dengan tarif Rp40.000,00 per kamar per malam. Tarif ini sudah termasuk  fasilitas sarapan pagi (http://anekaplanta.wordpress.com). Selain rumah inap, ada juga sebuah kafe dengan suasana alami, yaitu Cafe Botanicus. Kafe yang dikelilingi halaman berumput hijau dan kolam besar ini menyediakan berbagai menu untuk dinikmati di tengah suasana sejuk Kebun Raya Bogor.

Luasnya areal kebun raya membuat perjalanan kita akan terasa melelahkan. Namun jangan khawatir karena kebun raya ini memiliki tempat-tempat untuk beristirahat dan bersantai. Wisatawan dapat memilih kursi atau sekedar beralaskan rumput untuk duduk bersantai melepas lelah, sembari menikmati minuman atau makanan yang dibawa dari rumah. Bisa juga memilih beristirahat di tepian kolam yang dihiasi bunga teratai atau air mancur yang indah. Bagi wisatawan yang membawa anak-anak, areal hamparan rumput merupakan tempat yang cocok untuk bermain, sementara para orang tua cukup duduk-duduk sambil mengawasi mereka.

Supaya perjalanan menelusuri kebun raya menyenangkan, sebaiknya wisatawan menggunakan alas kaki yang nyaman, karena penjelajahan umumnya dilakukan dengan berjalan kaki. Akan lebih baik lagi jika tamasya Anda ke kebun raya bisa didampingi oleh pemandu yang akan memberikan keterangan yang memadai mengenai sejarah dan koleksi Kebun Raya Bogor. Para pemandu di kebun raya ini terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu pemandu berbahasa Indonesia, Jepang, dan Belanda.

 

3. Kebun Raya Cibodas


Kebun Raya Cibodas (Cibodas Botanical Garden), terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur. Topografi lapangannya bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian 1.275 m dpl, bersuhu udara 17 – 27 derajat Celcius.

Kebun ini didirikan pada tahun 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor pada lokasi di kaki Gunung Gede. Dengan curah hujan 2.380 mm per tahun dan suhu rata-rata 18 derajat Celsius, kebun botani ini dikhususkan bagi koleksi tumbuhan dataran tinggi basah tropika, seperti berbagai tumbuhan runjung dan paku-pakuan.

Fasilitas

Berbagai fasilitas tersedia di kawasan Cibodas, mulai dari lapangan parkir yang luas untuk menampung puluhan kendaraan roda empat maupun bus, ruang informasi yang dilengkapi dokumentasi Wana Wisata Cibodas, areal bermain anak-anak, mushola, MCK umum, shelter, pendopo, teater alam terbuka, dan camping ground seluas 3 hektar yang dapat menampung 200 tenda.

Kebun Raya Cibodas berdekatan dengan beberapa tempat wisata lainnya. Bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas terdapat Bumi Perkemahan Mandala Kitri yang dikelola oleh Pramuka. Tersedia juga lapangan golf, Bandung Asri Mulya.

Di bumi perkemahan Mandalawangi yang dikelola oleh Perum Pehutani tampak sebuah patung dinosaurus, yang memberikan gambaran atau peringatan agar kelestarian hutan ini janganlah sampai musnah seperti binatang purba yang tinggal sejarah tersebut.

Disamping itu, Kebun Raya Cibodas juga berdekatan dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP)[1]

Tumbuhan koleksi

Kebun Raya Cibodas (KRC) dimaksudkan sebagai tempat koleksi ex situ (di luar habitat) bagi tumbuh-tumbuhan tropis basah dataran tinggi. Termasuk dalam koleksinya adalah berbagai jenis pohon besar yang dilindungi seperti tusam dan tumbuhan runjung, tumbuhan paku pegunungan, hutan kaliandra, hutan alam dan terdapat pua air terjun. Dari pintu masuk ke lokasi air terjun berjarak 750 meter.

Taman Lumut Cibodas

Koleksi yang paling khas dari KRC adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis[1] lumut dan lumut hati dari berbagai sudut Indonesia dan dunia. Dengan luas 2500m persegi, taman ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang terletak di luar ruangan dan memiliki koleksi terbanyak.

Rute Pencapaian

Untuk mencapainya, dari Cipanas lewat Simpang Tiga Paregrejen sejauh 5 km. Dari Jakarta, Bogor, dan Bandung dapat mempergunakan roda dua dan empat, bus besar dapat masuk ke dalam kawasan ini. Bila menggunakan bus atau colt turunlah di pertigaan Cibodas, langsung menggunakan angkutan umum rute Cipanas-Rarahan, sampai di Balai Taman Nasional Gede-Pangrango, selanjutnya tinggal berjalan kaki menuju Kebun Raya.

Dari simpang tiga (Simpang Paragajen) menuju Cibodas, di kiri kanan jalan dijual berbagai tanaman hias khusus daerah pegunungan yang sangat indah, warna-warni dan beraneka ragam jenisnya.

 

4. Observatorium Bosscha Lembang


Secara historis,  tahun 1920 merupakan tahun istimewa bagi Observatorium Bosscha, karena pada  tahun itu mulai bergulir ide untuk mendirikan stasiun pengamatan bintang. Ide  tersebut bergulir seiring dengan berdirinya Nederlandch Indische  Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang  dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah berkebangsaan  Belanda yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar, Lembang, Jawa Barat.

Pada tanggal 12  September 1920, perhimpunan tersebut mengadakan rapat perdana di Hotel Homman Bandung. Peserta rapat  sepakat untuk mendirikan sebuah observatorium yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Waktu itu, Mr. Bosscha berjanji  akan memberikan bantuan berupa teropong bintang modern. Tak lama berselang, Mr.  Bosscha bersama sepupunya, Mr. Dr. J. Voute, bertolak ke Askania Werk Jerman  untuk memesan Meredian Circle dan Carl Zeiss Double Refractor.

Pada tahun 1922, pembangunan observatorium dimulai. Tanggal 1 Januari 1923 sebagian bangunannnya  sudah rampung dan langsung diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr. D. Fock. Dalam peresmian ini, Dr. Voute diangkat sebagai direktur pertamanya.

Pada tanggal 10  Januari 1928, teleskop yang dipesan tiba dari Jerman. Tanggal 26 November 1928,  beberapa bulan setelah pembangunan instalasi teleskop Zeiss selesai, Mr. Bosscha meninggal dunia. Atas jasa-jasanya, observatorium di Lembang dinamakan Observatorium Bosscha. Saat ini, Observatorium Bosscha dikelola oleh Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung (ITB).

B. Keistimewaan

Selain siang hari,  pengunjung dapat mengunjungi Observatorium Bosscha pada malam hari. Di sini terdapat teleskop untuk melihat bintang dan teleskop untuk melihat matahari.

Terhitung sejak tanggal 15 Desember 2007, di Observatorium Bosscha didirikan Museum Astronomi Indonesia (MAI) yang bertempat di Wisma Kerkhoven. Di museum ini, terdapat koleksi foto-foto pembangunan Onservatorium Bosscha, teleskop secretan, micrometre untuk membaca posisi bintang, dan measuring engine untuk membaca posisi  benda-benda langit.

Di Observatorium  Bosscha juga terdapat ruang perpustakaan yang berkaitan dengan seluk-beluk ilmu astronomi, ruang ceramah umum, kamar ukur, dan bengkel.

Selain itu, pengunjung dapat menikmati paket khusus bernama AstroCamp, dimana peserta tinggal di dekat observatorium untuk mendapatkan pendidikan dan latihan dasar  astronomi selama dua hari dua malam. Peserta dapat berdiskusi dan menggunakan teropong bintang untuk melakukan pengamatan dan pemotretan langsung benda-benda langit bersama astronom profesional.

C. Lokasi

Observatorium Bosscha terletak di Jalan Peneropongan Bintang, Desa Gudang Kahuripan dan Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Berjarak sekitar 15 kilometer ke arah utara dari pusat kota Bandung, dengan  jarak tempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda dua atau  roda empat .

D. Akses

Dari Bandung,  pengunjung dapat naik kendaraan pribadi atau angkutan kota menuju Lembang. Khusus untuk kendaraan  pribadi, dapat diparkir dekat lokasi observatorium. Sedangkan kendaraan umum, diparkir di Jalan Raya Lembang, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi.  Dari sini, pengunjung dapat berjalan kaki menuju lokasi, atau menyewa ojek  dengan tarif sekitar Rp. 3.000-Rp. 5.000  per orang (data akhir Desember 2007).

E. Harga Tiket

Masih dalam proses konfirmasi.

F. Akomodasi dan  Fasilitas

Kawasan wisata  Lembang menyediakan berbagai fasilitas penunjang, seperti ATM, wisma, hotel, villa, warung, kafe, voucher isi pulang pulsa, serta outlet yang menjual  cinderamata dan jajanan khas Bandung.

 

5. Pemandian Air Panas Ciater


Ciater atau Sari Ater merupakan salah satu tempat tujuan wisata andalan Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dalam satu bulan, tempat pemandian air panas alami Ciater mampu menyedot pengunjung rata-rata sebanyak 60.000 orang. Mereka tidak hanya wisatawan dari lingkup lokal Jawa Barat dan sekitarnya saja, melainkan juga datang dari kota-kota besar di Indonesia, bahkan tidak sedikit pula wisatawan dari mancanegara, seperti turis yang berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah (www.kotasubang.wordpress.com).

Pemandian air panas Ciater terletak tidak jauh dari Gunung Tangkuban Perahu. Air panas yang dihasilkan pun bersumber dari kawah aktif gunung yang menjadi legenda tanah Pasundan itu. Selain dialirkan ke pemandian Ciater, air yang mengaliri sungai sepanjang 2000 meter itu juga digunakan untuk kepentingan pengairan lahan persawahan. Menurut pengakuan para petani setempat, air yang bersumber dari Gunung Tangkuban Perahu itu lebih berdampak positif terhadap mutu hasil panen daripada jika menggunakan air biasa untuk mengairi sawah (http://202.146.5.33/ver1/negeriku).

Sumber mata air panas yang terdapat di beberapa lokasi di Ciater disajikan dalam bentuk kolam dan kamar rendam dengan desain yang unik (www.subang.go.id). Dengan luas areal 30 hektare dan pesona alam khas pegunungan, obyek wisata terbesar di Jawa Barat ini menjanjikan berbagai fasilitas wisata bagi Anda dan keluarga untuk bersantai dengan berendam di hangatnya air panas yang menyehatkan sembari menikmati keindahan alam yang tersaji di sekitarnya.

Semula, kawasan yang terletak di kaki Gunung Tangkuban Perahu ini masih berupa areal hutan yang oleh sebagian warga sekitar dianggap angker. Di rimba tersebut, banyak terdapat pepohonan yang dikenal dengan nama pohon ater. Menurut cerita yang beredar di masyarakat tempatan, suatu ketika ada seseorang yang mencoba memotong pohon ater itu, dan ternyata dari cabang pohon yang dipotong tersebut keluarlah air yang cukup deras.

Fenomena ini tentu saja menjadi anugerah bagi masyarakat sekitar yang waktu itu sedang mengalami kesusahan akan air bersih. Pancaran air yang keluar dari pohon ater tersebut diyakini oleh warga berkhasiat untuk mengobati penyakit, terutama penyakit kulit. Kebenaran atas keyakinan warga itu dibuktikan oleh seorang peneliti dari Belanda, Hack Bessel, setelah melakukan pengujian terhadap air yang ternyata memang mujarab itu (www.kotasubang.wordpress.com).

Pada sekitar tahun 1960-an, seorang bernama Embah Ebos yang dikenal sebagai orang sakti, memulai usaha pembukaan hutan di kawasan tersebut. Daerah yang semula dianggap angker itu diubah menjadi lahan perkampungan dan diberi nama Ciater yang artinya “air yang memancar”. Dari sinilah nama Ciater bermula dan kemudian populer sebagai obyek wisata pemandian air panas. Sejak tahun 1968, potensi air panas di Ciater mulai dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Subang dengan menunjuk Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) untuk mengembangkan wisata air panas di Ciater (www.kotasubang.wordpress.com).

B. Keistimewaan

Cukup beragam keistimewaan yang ditawarkan pemandian air panas di Ciater, bahkan sebelum Anda tiba di lokasi pemandian. Di sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata, Anda akan disuguhi pemandangan yang sangat indah dan asri. Hamparan kebun teh yang menghijau di kanan dan kiri jalan akan menyegarkan pandangan serta menentramkan hati siapa saja yang melihatnya. Udara khas pegunungan yang sejuk akan menambah nyaman perjalanan Anda menuju lokasi pemandian air panas Ciater.

Sesampainya di Ciater, Anda dapat memilih lokasi mana yang ingin Anda datangi karena di tempat wisata ini ada beberapa pihak yang mengelola sejumlah tempat pemandian air panas. Selain menyajikan pemandian air panas alami, di Ciater juga terdapat kolam umum yang menyediakan fasilitas kamar-kamar yang disewakan. Di dalam kamar-kamar ini, Anda akan mendapatkan privacy dan kenyamanan berendam untuk menikmati sensasi air hangat sepuasnya. Selain itu, di obyek wisata ini juga disediakan fasilitas bungalo bagi pengunjung yang ingin menginap (www.kartikasari.com).

Pemandangan alam di sekitar kolam pun tidak kalah menakjubkan. Anda dapat menikmati keindahan air terjun yang berselimut kepulan uap air hangat di kompleks pemandian air panas Ciater ini. Berendam di Ciater akan membuat aliran darah terasa lancar sehingga badan akan terasa bugar. Khasiat air panas Ciater memang sudah teruji secara klinis. Berdasarkan hasil pengkajian tentang manfaat mandi air alam dan air kesehatan, air di Ciater mengandung kalsium, magnesium, chloride, sulfat, thermo, mineral, serta hypertherma dengan kadar aluminium yang tinggi yaitu 38,5 equiv persen, dan keasamannya juga sangat tinggi yaitu dengan ph 2,45. Air panas yang langsung berasal dari mata air Ciater diperkirakan bersuhu 43—46 derajat celcius. Sedangkan air yang sudah dialirkan ke kolam pemandian kadar temperaturnya rata-rata berkisar dari 37—42 derajat celsius. Ketika air panas yang mengalir dari Gunung Tangkuban Perahu itu sampai di areal persawahan dan sudah agak dingin, suhunya menjadi sekitar 8—10 derajat celsius (www.madina-sk.com).

Selain dapat mengobati penyakit kulit, manfaat yang terkandung di dalam aliran air panas Ciater juga diyakini berkhasiat untuk terapi penyembuhan rematik, gangguan syaraf dan tulang, serta penyembuhan kelumpuhan yang diakibatkan oleh penyakit darah tinggi atau stroke (www.subank.wordpress.com). Hal ini disebabkan karena air panas yang terdapat di Ciater mengandung belerang dengan komposisi yang ideal untuk kesehatan. Tentu saja khasiat dari air panas Ciater ini akan dapat dirasakan jika Anda melakukan terapi dengan berendam secara rutin dan teratur. Untuk menunjang kebutuhan pengunjung akan hal tersebut, di Ciater juga disediakan fasilitas tempat terapi pengobatan.

Tidak hanya pesona wisata alami dan terapi kesehatan yang Anda dapatkan di tempat tujuan wisata Ciater. Banyak kegiatan menyenangkan yang bisa Anda sekeluarga lakukan di tempat ini, seperti bersepeda, berenang, memancing, berperahu dan mendayung, arung jeram, berkuda, tenis lapangan, basket, voli, mini golf, gokart, berkemah, outbond, wahana permainan anak-anak, jalan-jalan di perkebunan teh, hingga mengunjungi kerajinan keramik.

C. Lokasi

Kompleks pemandian air panas alami Ciater atau Sari Ater terletak di Desa Ciater, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Untuk mencapai pemandian air panas Ciater sangatlah mudah karena tempat tujuan wisata ini berada di lokasi yang cukup strategis, yakni tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Subang dan Kota Bandung dengan Lembang yang berada di antaranya. Rute menuju Ciater dapat dilakukan dari semua arah. Dari Bandung, Ciater dapat dicapai hanya dalam waktu 30 menit dengan jarak 32 kilometer. Dari Lembang berjarak 15 kilometer, dari Kawah berjarak 7 kilometer, sedangkan jika berangkat dari Subang akan memakan jarak tempuh sekitar 30 kilometer. Apabila Anda berangkat dari ibukota Jakarta, terdapat dua pilihan rute ke pemandian air panas Ciater. Pertama, melalui rute arah Puncak yang berjarak tempuh sepanjang 212 kilometer, dan rute kedua adalah dari Jakarta melewati Tol Cikampek—Bekasi dengan jarak tempuh 185 kilometer.

Perjalanan menuju pemandian air panas Ciater melalui jalan darat dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika Anda memakai jasa angkutan umum dari arah Bandung, sebaiknya Anda berangkat dari Terminal Ledeng dengan menumpang angkutan umum jurusan Ledeng—Lembang. Setelah tiba di Terminal Lembang, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan mengunakan angkutan umum jurusan Lembang—Subang. Setelah kira-kira menempuh 30 menit perjalanan dari Terminal Lembang, turunlah di Jalan Cagak, Desa Ciater. Di situlah lokasi wisata pemandian air panas Ciater berada.

E. Harga Tiket

Biaya masuk kompleks pemandian air panas Ciater adalah sebesar Rp15.000/orang (per Oktober 2009). Harga tersebut belum termasuk biaya untuk bisa menikmati air panas di kolam pemandian yang dikenai banderol bervariasi, dari Rp20.000,- hingga Rp55.000,- tergantung fasilitas yang disediakan.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Fasilitas-fasilitas yang disediakan untuk mendukung obyek wisata pemandian air panas Ciater sangat beraneka macam yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari fasilitas umum, pelayanan istimewa, penginapan, hingga kuliner khas sebagai oleh-oleh disediakan di tempat tujuan wisata alami dan kesehatan ini. Fasilitas umum seperti lahan parkir, masjid, toilet, serta sarana berbelanja, sudah pasti disediakan di lokasi wisata ini.

Selain itu, obyek wisata pemandian air panas Ciater juga menawarkan beragam fasilitas spesial, di antaranya fasilitas untuk olahraga dan permainan, kolam pemancingan, wahana anak-anak, area outbond, lahan perkemahan, dan masih banyak fasilitas penunjang yang lain. Bahkan, Anda bisa menyelenggarakan acara di lokasi ini karena tersedia juga fasilitas tempat konferensi dengan ruang makan yang cukup luas, tentu saja dengan perhitungan biaya yang sudah ditetapkan oleh para pengelola wisata yang tersebar di sejumlah tempat di Ciater ini. Bagi Anda yang ingin menginap dan menghabiskan malam di lokasi wisata ini, disediakan juga beragam fasilitas penginapan serta bungalo dengan berbagai tipe. Ada juga sejumlah area yang menyediakan fasilitas internet hotspot.

Untuk sajian kulinernya pun tersedia beraneka jenis restoran hingga warung makan sederhana. Sebagai menu andalan sekaligus makanan khas di tempat wisata ini adalah sate dan sop kelinci. Sebelum pulang dan kembali menyuntuki aktivitas keseharian, sempatkanlah berbelanja buah nanas yang menjadi buah kebanggaan warga Subang sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman Anda. Di lokasi wisata maupun di sepanjang jalan menuju Ciater, terdapat cukup banyak penjual buah nanas dengan harga, tampilan, dan kualitas yang bervariasi.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: