Museum


1. Museum Geologi


Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar kata-kata Geologi diucapkan oleh reporter yang meliput bencana maupun membacanya dalam berita. Namun, apakah kita tahu arti dari Geologi itu sendiri? Geologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur bumi, termasuk asal muasal bebatuan di bumi, mineral-mineral yang terkandung di bumi. Nah, jika tertarik mengetahui lebih lanjut tentang geologi, tak ada salahnya berkunjung ke Museum Geologi yang terletak di Kota Bandung.

Museum Geologi awalnya merupakan laboratorium milik Belanda yang memiliki beranekaragam koleksi batuan, mineral, meteroit, fosil, dan artefak yang telah dikumpulkan sejak tahun 1850-an. Pada 16 Mei 1929, Geoligisch Laboratorium ini diresmikan menjadi museum dengan nama Geologisch Museum. Koleksi Museum Geologi setiap tahun selalu bertambah, sehingga diperlukan perluasan bangunan. Renovasi pun dilakukan dengan bantuan dana dari JICA (Japan International Cooperation Agency) dan berlangsung selama dua tahun mulai dari 2 November 1998 hingga tahun 2000. Museum Geologi kemudian diresmikan oleh Megawati Sukarno Putri pada 3 Agustus 2000.

Setelah renovasi usai, luas gedung menjadi 6.000 m2.  Sepertiga dari luas bangunan tersebut digunakan untuk memajang koleksi museum. Saat ini Museum Geologi menjadi museum dengan koleksi geologi dan pertambangan yang terlengkap di Indonesia. Koleksi unggulan yang terkenal adalah fosil manusia purba Homo Erectus, fosil gajah purba Stegodon Trigonocephalus, dan replika fosil dinosaurus karnivora terbesar serta terganas, Tyrannosaurus Rex.

B. Keistimewaan

Saat ini koleksi Museum Geologi berjumlah ratusan ribu batuan atau mineral, dan ribuan fosil (beberapa merupakan merupakan fosil holotype yang dipakai sebagai acuan di seluruh dunia) yang datanya tersimpan di Ruang Dokumentasi. Museum juga memiliki Ruang Pamer yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Ruang Geologi Indonesia, Ruang Sejarah Kehidupan, serta Ruang Geologi dan Kehidupan Manusia. Memasuki Ruang Geologi Indonesia, wisatawan akan menyaksikan peragaan proses terjadinya bumi, dilanjutkan perkembangan pembentukan Kepulauan Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Indo-Australia. Di ruang ini pula Anda dapat menyaksikan meteroit yang jatuh di Klender (Jakarta), peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Galunggung, Krakatau, Tangkuban Perahu, Merapi, serta beberapa gunung api lainnya.

Selanjutnya, Ruang Sejarah Kehidupan yang mengambarkan perkembangan kehidupan dari waktu ke waktu. Pajangan yang ada di Ruang Sejarah Kehidupan diklasifikasi lagi menjadi Prakambrium (Masa Kehidupan Purba dan Awal), Paleozoikum (Masa Kehidupan Tua), Mesozoikum (Masa Kehidupan Tengah), Dinosaurus, Kenozoikum (Masa Kehidupan Baru), Vertebrata Indonesia, dan Manusia Purba. Di ruang ini, Anda akan menemui fosil Tyrannosaurus Rex Osborn yang terkenal. Di seberang T-Rex terdapat area Vertebrata Indonesia yang memajang aneka fosil asli Indonesia, antara lain gajah purba, kerbau purba, dan kura-kura raksasa. Selain itu, juga terdapat fosil manusia purba, Homo Erectus, yang hidup pada Zaman Kuarter.

Ruang pamer yang terakhir adalah Ruang Geologi dan Kehidupan Manusia. Di ruang ini digambarkan cara penambangan dan pengolahan mineral serta minyak dan gas bumi yang menjadi sumber pendapatan negara, juga pendayagunaan sumber serta cadangan air bawah tanah yang memiliki manfaat yang amat besar bagi manusia. Pajangan di ruangan ini diklasifikasi menjadi Pertambangan Mineral & Energi, Pemanfaatan Batuan & Mineral, Eksplorasi & Eksploitasi, Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari, Bahan Galian Komoditas Nasional, Gempa Bumi & Gerakan Tanah, Bahaya & Manfaat Gunung Api, dan Air & Lingkungan.

C. Lokasi

Museum Geologi terletak di Jalan Diponegoro 57, Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Terletak di tengah kota menjadikan Museum Geologi mudah diakses dari manapun. Dari Bandara Husein Satranegara, wisatawan hanya memerlukan waktu 25 menit perjalanan, dari Stasiun Kereta Api Bandung 15 menit, dari Terminal Bus Leuwipanjang 30 menit, dan dari Terminal Bus Cicaheum hanya 15 menit.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang ingin menyaksikan koleksi Museum Geologi tidak perlu membayar tiket sepeserpun. Jam buka Museum Geologi sebagai berikut: Senin – Kamis (09.00 – 15.30 WIB), Sabtu – Minggu (09.00 – 13.00), Jumat dan hari libur nasional tutup (Oktober, 2010).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lain

Selain ruang pamer, Museum Geologi juga memiliki berbagai fasilitas pendukung, seperti tempat parkir yang luas, toilet umum, dan kios suvenir. Di kios suvenir ini wisatawan dapat menemukan beragam pernak-pernik yang berhubungan dengan Museum Geologi, mulai dari buku panduan museum, scarf dengan gambar fosil, atau VCD mengenai evolusi manusia, jenis bebatuan, tsunami dan bencana alam, serta tema-tema lainnya.

 

2. Museum Konferensi Asia Afrika


Prof. Dr. Mochtar  Kusumaatmadja, S.H., LL.M. merupakan orang yang pertama kali melontarkan  gagasan untuk mendirikan Museum Konferensi Asia Afrika. Beliau terilhami oleh  keinginan para pemimpin bangsa untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika.  Gagasan tersebut baru terlaksana pada masa Joop Ave menjadi Direktur Jendral Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri dan Ketua Harian Konferensi Asia Afrika ke-25. Pembangunan museum ini terlaksana berkat kerjasama Departemen Luar Negeri, Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjajaran Bandung. Museum  Konferensi Asia Afrika diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 April  1980 bertepatan dengan puncak acara Konferensi Asia Afrika yang ke-25.

Pendirian museum ini bertujuan untuk mengumpulkan, memelihara, mengolah, dan menyajikan  peninggalan-peninggalan dan informasi-informasi yang berkaitan dengan latar  belakang peristiwa Konferensi Asia Afrika.

Selain itu, pendirian museum bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan kawasan Asia  Afrika dari waktu ke waktu, serta memotret aspek sosial, budaya, ekonomi, peran dan percaturan politik Indonesia khususnya dan kawasan Asia Afrika umumnya  dalam kancah internasional.

Lebih jauh, pendirian museum ini sangat strategis bagi bangsa Indonesia sendiri dalam rangka untuk menunjang usaha-usaha pengembangan kebudayaan nasional, pendidikan bagi  generasi muda, dan peningkatan aset kepariwisataan.

B. Keistimewaan

Pengunjung tak  hanya disuguhi dengan benda-benda, koleksi foto-foto dan arsip-arsip, karena museum ini telah dikembangkan sebagai pusat studi, edukasi, informasi, dan rekreasi. Museum ini ditunjang dengan ruang pameran modern yang memamerkan sejumlah benda dan foto peninggalan Konferensi Asia Afrika Pertama pada tahun 1955 dan Peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 pada tahun 1980.

Di museum ini terdapat ruang audio visual yang dapat digunakan pengunjung untuk menonton film dokumenter tentang Konferensi Asia Afrika dan negara-negara berkembang lainnya. Di museum ini juga terdapat ruang diorama yang menceritakan bagaimana Presiden Soekarno berorasi saat Konferensi Asia Afrika Pertama digelar pada tahun 1955.

Selain itu, di  museum ini tersedia layanan perpustakaan koleksi buku-buku, dokumen-dokumen,  arsip-arsip, majalah, surat kabar, dan brosur mengenai Konferensi Asia Afrika  tahun 1955, konferensi-konferensi lanjutannya, negara-negara Asia Afrika, dan  negara-negara berkembang lainnya.

C. Lokasi

Museum Konferensi Asia  Afrika terletak di Jalan Asia Afrika No. 65, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Museum Konferensi Asia  Afrika berada di jantung kota, dekat dengan  alun-alun, dan dilalui trayek angkutan kota,  sehingga dapat diakses dengan mudah dari berbagai penjuru Kota Bandung.

E. Harga Tiket

Masih dalam proses  konfirmasi.

F. Akomodasi dan  Fasilitas

Di sekitar Museum Konferensi  Asia Afrika terdapat berbagai fasilitas, seperti wisma dan hotel dengan berbagai  tipe, warung, kafe, restoran, mall, bank, ATM, factory-factory dan outlet-outlet  yang menyediakan cinderamata dan jajanan khas Bandung, serta pemandu wisata  yang dapat menjelaskan tentang seluk-beluk museum.

 

3. Museum Perundingan Linggar Jati

Sebagian besar masyarakat Indonesia hampir dapat dipastikan mengenal Perjanjian Linggarjati. Setidaknya mengingatnya sebagai salah satu poin yang selalu diajarkan dalam pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Ya, Perjanjian Linggarjati (yang biasa juga dilafalkan “linggajati”) merupakan perjanjian penting antara Pemerintah Indonesia yang baru setahun mengumandangkan kemerdekaannya, dengan Pemerintah Belanda yang ngotot ingin kembali menguasai kawasan Hindia Belanda usai Perang Dunia II. Perjanjian yang dilaksanakan antara 10 hingga 13 November 1946 ini dilakukan di sebuah gedung bekas hotel di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Nah, gedung bekas perjanjian yang berhasil membuahkan pengakuan secara de facto eksistensi Republik Indonesia dengan kekuasaan meliputi Pulau Jawa, Madura, dan Sumatra oleh pemerintah Belanda ini telah difungsikan sebagai museum. Namun sebelum menjadi museum, gedung dengan arsitektur khas kolonial ini mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang, bahkan sempat berada dalam kondisi yang mengenaskan sebelum akhirnya direnovasi untuk dijadikan museum.

Gedung ini pertama kali dibangun oleh Tuan Mergen atau yang dikenal juga dengan sebutan Tuan Tersana sekitar tahun 1921. Tuan Tersana adalah pemilik pabrik gula Tersana Baru di daerah Cirebon. Setelah mengawini seorang janda kembang bernama Jasitem, konon ia kemudian membangun rumah peristirahatan semi permanen di desa Linggarjati untuk istrinya (http://haryodamardono.blogspot.com). Kawasan Linggarjati memang cocok untuk lokasi rumah peristirahatan atau vila, sebab daerah yang berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas pemukaan laut (dpl) ini cukup sejuk dengan latar belakang pemandangan Gunung Ciremai yang indah.

Pada tahun 1930, rumah ini dibeli oleh keluarga Belanda bernama Van Ost Dome yang kemudian merombak bangunannya menjadi bangunan permanen. Setelah dibeli Van Ost Dome, pada tahun 1935 rumah persitirahatan ini disewakan kepada Heiker, seorang Belanda yang memfungsikan rumah tersebut sebagai hotel dengan nama Hotel Rustoord. Usaha perhotelan ini cukup berkembang sampai kedatangan balatentara Jepang sekitar tahun 1942. Pada zaman pendudukan Jepang, Hotel Rustoord berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan. Namun kekuasaan Jepang tidak berlangsung lama, karena mereka kalah pada Perang Dunia II dan harus berkemas kembali ke negaranya. Oleh sebab itu, sejak 1945 Hotel Hokay Ryokan kemudian “dinasionalisasi” menjadi Hotel Merdeka. Ciri khas bangunan hotel ini masih nampak hingga saat ini, misalnya pembagian ruangan, kamar, serta ruang pertemuan yang masih mirip hotel jaman dulu (http://www.museum-indonesia.net).

Usai Perang Dunia II, Belanda membonceng Sekutu untuk kembali menguasai kawasan Hindia Belanda. Namun, pihak Sekutu yang dipimpin Inggris mencoba menengahi ketegangan antara Belanda dan Indonesia dengan memfasilitasi berbagai perundingan, salah satunya Perundingan Linggarjati. Lantas siapa yang memilih bangunan ini sebagai tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda pada 1946? Usulan tersebut ternyata dicetuskan oleh Maria Ulfah Santoso, Menteri Sosial pada Kabinet Sjahrir II yang berasal dari Kabupaten Kuningan. Menurut pendapat Maria Ulfah, lokasi gedung tersebut cukup kondusif untuk perundingan, dan cukup dekat jaraknya dengan Jakarta, sehingga memudahkan transportasi presiden dan wakil presiden menuju Kuningan, apabila sewaktu-waktu diperlukan mendadak. Usul Maria Ulfah ini disetujui oleh Sjahrir, Perdana Menteri dan sekaligus ketua delegasi perundingan dari Indonesia (http://www.museumindonesia.com).

Setelah sempat menjadi lokasi perundingan penting, Gedung Perjanjian Linggarjati ini pernah juga difungsikan sebagai markas militer Belanda pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II. Salah satu divisi yang pernah menggunakan gedung ini adalah Divisi Zeven December, salah satu divisi yang bertugas di Jawa Barat pada 1946 sampai 1949. Untuk mengenang tempat-tempat yang penuh kenangan sejarah itu, para veteran Divisi Zeven December yang masih hidup pernah mengunjungi Gedung Perjanjian Linggarjati untuk sekedar bernostalgia. Kunjungan ini misalnya terjadi pada awal November 2004, di mana puluhan veteran tentara Belanda ini bernostalgia dengan ditemani musuh mereka, para veteran tentara Siliwangi (http://swaramuslim.net).

Usai Agresi Militer Belanda, gedung bersejarah ini kemudian difungsikan sebagai gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Linggarjati, sekitar tahun 1950 hingga 1975. Pada saat difungsikan sebagai sekolah, kondisi gedung makin tidak terawat. Ketika Bung Hatta dan Ibu Sjahrir (istri Sutan Sjahrir) berkunjung untuk melihat kondisinya, gedung ini sudah nampak sangat memprihatinkan, sehingga Bung Hatta menjanjikan renovasi. Namun, renovasi tak kunjung terjadi, hingga akhirnya Gedung Perjanjian Linggarjati diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan museum pada tahun 1976 (http://www.museum-indonesia.net). Selain direnovasi sebagai museum, pemerintah juga menetapkan Gedung Perjanjian Linggarjati sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 (http://navigasi.net).

B. Keistimewaan

Berjarak puluhan meter dari jalan raya, keberadaan sebuah rumah tua dengan tembok tinggi dan jendela besar-besar sungguh menyolok mata. Rumah ini sangat kontras dengan rumah-rumah model baru di sekitarnya. Gedung Linggarjati memang memberikan kesan kuat sebagai bangunan kuno. Temboknya yang tinggi dan tebal, jendela-jendela yang dibuat besar-besar, lubang-lubang ventilasi yang khas, serta model atap yang khas pula memudahkan kita mengidentifikasinya sebagai bangunan bekas jaman kolonial. Arsitekturnya macam ini merupakan salah satu ciri khas bangunan tropis, di mana bentuk bangunan sengaja dibuat untuk memudahkan sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari yang cukup di kala siang.

Gedung Linggarjati berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare. Bangunannya sendiri menempati luas 800 meter persegi, sementara selebihnya digunakan sebagai areal parkir dan taman rumput yang dihiasi bunga-bunga dan pepohonan. Lingkungannya yang sejuk dan tidak terlalu ramai membuat pengunjung merasa betah untuk berlama-lama di tempat ini, untuk sekedar menghirup udara segar atau menikmati suasana lereng pegunungan. Namun, suasana yang nyaman ini hanya “bonus” dari kunjungan Anda ke Linggarjati. Artinya, paket utama kunjungan tentu saja harus diambil, yakni menyaksikan langsung peninggalan Perjanjian Linggarjati. Kunjungan Anda ke kawasan Linggarjati belum benar-benar sempurna jika belum melihat koleksi benda-benda bersejarah yang ada di dalam museum. Interior gedung, perobot, serta benda-benda bersejarah lainnya akan membawa imajinasi kita pada salah satu babak menentukan dalam perjalanan bangsa ini.

Memasuki Gedung Linggarjati, pengunjung akan disambut oleh penjaga museum. Sebelum menikmati seluruh koleksi bersejarah yang ada, Anda harus mengisi buku tamu sebagai tanda bukti kunjungan. Selain itu, disarankan juga untuk memberikan sumbangan sukarela dengan cara memasukkan uang ke dalam kotak sumbangan. Setelah itu, pengunjung bebas melangkah untuk melihat-lihat koleksi yang ada. Seorang pemandu biasanya akan membantu menjelaskan kisah di balik tiap koleksi yang dipajang.

Gedung Linggarjati terdiri dari beberapa ruangan, antara lain ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi, dan ruang belakang (dapur). Tiap ruangan dilengkapi dengan perabot, foto-foto, serta berbagai perlengkapan layaknya rumah peristirahatan. Di ruang tengah, misalnya, dipamerkan berbagai foto yang berkaitan dengan Perjanjian Linggarjati serta gambar perkembangan kondisi gedung dari masa ke masa yang sempat diabadikan dengan kamera. Di tempat ini juga masih bisa disaksikan lemari setinggi pinggang serta sebuah piano kuno yang kemungkinan peninggalan pemilik terdahulu ketika bangunan ini difungsikan sebagai hotel. Di samping itu, di ruangan tengah ini juga ditampilkan semacam diorama yang menggambarkan proses perundingan, lengkap dengan meja-kursi dan patung para delegasi perundingan.

Ruang tengah memang merupakan tempat dilangsungkannya Perundingan Linggarjati. Di tempat inilah delegasi dari Indonesia yang terdiri dari Sutan Sjahrir, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A. K. Gani, Mr. Muhammad Roem, serta delegasi dari Belanda yang terdiri dari Prof. Ir. Schermerhorn, Mr. Van Poll, Dr. F. DeBoer, serta Dr. Van Mook berunding untuk menyelesaikan sengketa antara negara yang baru merdeka dengan bekas penjajahnya. Selain para perunding, ada juga para notulen, yang terdiri dari Dr. J. Leimena, Dr. Soedarsono, Mr. Amir Sjarifuddin, Mr. Ali Budiardjo, serta seorang penengah utusan Inggris bernama Lord Killearn. Diorama ini dibuat oleh Dinas Pariwisata Jawa Barat sekitar tahun 1986 (http://haryodamardono.blogspot.com).

Wisatawan dapat pula melihat papan berukuran cukup besar yang berisi pasal-pasal hasil kesepakatan Perundingan Linggarjati. Tiga pasal utama hasil perundingan tersebut adalah: [1] Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; [2] Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia; [3] Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya (http://teamtouring.web.id). Hasil kesepakatan penting ini rupanya ditolak oleh kalangan oposisi di Indonesia dan kalangan parlemen di Belanda, sehingga berbagai butir perjanjian terkesan mengambang begitu saja. Hasil perjanjian dianggap terlalu jauh menukik pada kebijakan dua negara. Akibatnya, berbagai partai oposisi menarik dukungannya terhadap Sjahrir, sehingga berujung pengunduran diri Sjahrir sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947.

Puas menikmati diorama yang menyajikan salah satu momen bersejarah ini, kita bisa melihat ruang-ruang kamar yang pernah digunakan oleh para delegasi untuk beristirahat. Di atas daun pintu ditempel papan nama delegasi yang beristirahat di kamar tersebut. Memasuki kamar-kamar ini, kita masih bisa menyaksikan kondisinya yang terkesan kuno, misalnya bentuk jendela, dipan, serta bantal guling besar-besar dengan sarung berwarna putih. Ruangan lainnya adalah dapur yang berisi lemari kuno dengan peralatan makan dan minum yang dahulu digunakan dalam Perundingan Linggarjati. Koleksi perabotan ini umumnya dikembalikan oleh warga sekitar yang pernah merawatnya karena Gedung Linggarjati sempat tak terawat.

Usai menyaksikan berbagai benda bersejarah, wisatawan dapat beristirahat sambil duduk-duduk di teras beton di halaman gedung. Di tempat yang cukup luas ini wisatawan dapat menghilangkan penat sekaligus menikmati pemandangan lembah dan jalan raya yang berada tak jauh dari tempat tersebut. Kunjungan ke Museum Linggarjati juga dapat dilengkapi dengan menikmati obyek wisata lainnya, yakni sebuah fasilitas pariwisata pendukung, berupa taman asri yang dilengkapi berbagai fasilitas dan permainan, seperti kolam renang, danau buatan, serta sarana perahu karet untuk menyeberangi danau.

C. Lokasi

Museum Perundingan Linggarjati terletak di Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

D. Akses

Meskipun merupakan jalur yang terbilang sepi, jalan menuju Linggarjati telah diaspal dengan baik, sehingga memudahkan Anda yang ingin mengunjungi tempat ini. Dari Kota Cirebon, Linggarjati berjarak sekitar 30 kilometer, sedangkan dari Kota Kuningan sekitar 17 kilometer.

Dari Jakarta, apabila Anda menggunakan kendaraan pribadi, perjalanan dapat dilakukan menempuh jalur tol Jakarta-Cirebon, kemudian berbelok arah ke selatan keluar di gerbang tol Ciperna pada ruas tol Palimanan-Kanci (tol Cirebon). Dari sini, Anda menuju Kota Kuningan dengan perjalanan sekitar 20 menit. Dari Kuningan lanjutkan perjalanan menuju Desa Linggarjati. Jika Anda menggunakan angkutan umum, ada ratusan bus umum yang melayani trayek Jakarta-Kuningan setia harinya. Dari kota ini, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum menuju museum.

Museum Perjanjian Linggarjati buka setiap hari Senin – Jumat pukul 07.00 – 15.00 WIB, dan Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 17.00 WIB.

E. Harga Tiket

Pengunjung tidak dipungut biaya tiket. Anda hanya disodori kotak sumbangan sukarela.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Museum Perjanjian Linggarjati telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung bagi wisatawan, seperti lahan parkir yang cukup luas, pemandu (guide) wisata, buku panduan sederhana tentang sejarah dan koleksi apa saja yang dipamerkan di museum, serta toilet. Selain itu ada juga ruang pertemuan (auditorium) yang dapat digunakan untuk kegiatan rapat, teras-teras untuk tempat istirahat, serta para penjual suvenir yang menjual pernak pernik bertuliskan “Gedung Perjanjian Linggarjati”.

Wisatawan yang merasa lapar sehabis mengelilingi gedung dapat menikmati kuliner khas Cirebon, yakni tahu gejrot yang dijual di dekat museum. Menikmati tahu gejrot sambil duduk-duduk di teras museum atau di taman, tentu saja dapat menjadi pengalaman kuliner yang mengesankan. Apabila ingin menginap, tak jauh dari Museum Linggarjati terdapat beberapa penginapan (hotel maupun vila) yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan.

 

4. Museum Pos Indonesia


Pernah dengar tentang Gedung Sate di Bandung? Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal bangunan unik dengan atap mirip tusuk sate yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat tersebut. Tetapi, apakah Anda tahu bahwa di sayap timur Gedung Sate berdiri sebuah museum tentang pos yang dibangun tahun 1931? Mungkin tak banyak di antara kita yang tahu, bahwa selain keunikan Gedung Sate yang sudah terkenal itu, terdapat obyek wisata sejarah yang tak kalah menariknya untuk kita kunjungi, yakni Museum Pos Indonesia.

Museum Pos Indonesia dapat dikatakan merekam perjalanan sejarah layanan pos di Indonesia sejak jaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Gedung yang digunakan sebagai museum tersebut dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissans. Sejak 1933, gedung seluas 706 meter persegi ini kemudian difungsikan sebagai museum, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (seringkali disingkat Museum PTT) (http://www.egamesbox.com).

Meletusnya Perang Dunia II dan masa Pendudukan Jepang pada tahun 1941 menyebabkan museum dengan koleksi berbagai benda-benda pos dari seluruh dunia ini tidak terurus. Bahkan sejak masa revolusi kemerdekaan hingga awal akhir 1979 Museum PTT makin tak terperhatikan. Baru pada awal 1980, Perum Pos dan Giro membentuk sebuah panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali sebagai sarana untuk memamerkan koleksi benda-benda pos dan telekomunikasi. Ikhtiar ini membuahkan hasil dengan diresmikannya museum tersebut pada Hari Bhakti Postel ke-38, yakni tanggal 27 September 1983 oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi ketika itu. Museum ini diberi nama Museum Pos dan Giro, mengikuti nama perusahaan milik pemerintah yang membawahi museum tersebut (http://www.museum-indonesia.net).

Perubahan nama kembali terjadi di tahun 1995, ketika nama Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Nama Museum Pos dan Giro menyesuaikan dengan nama baru perusahaan, menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi museum ini juga makin berkembang. Tak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi, museum ini juga menjadi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai obyek wisata khusus (http://cptshtia.blogspot.com).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang makin memudahkan pengiriman pesan, baik melalui jaringan internet maupun telepon seluler, membuat layanan pos makin kurang diminati. Surat menyurat maupun pengiriman kartu pos kini seolah telah ketinggalan jaman. Oleh sebab itu, keberadaan Museum Pos Indonesia makin penting untuk memperlihatkan perkembangan teknologi pengiriman pesan dan barang dari jaman awal perusahaan pos pada tahun 1930-an hingga layanan terkini. Koleksi yang dipamerkan tak hanya sebatas perangko maupun kartu pos, melainkan juga diperluas dengan memerkan berbagai peralatan pos, buku-buku, serta visualisasi dan diorama kegiatan pengeposan. Dengan perluasan benda dan koleksi museum, menjadikan museum ini sebagai museum pos yang cukup lengkap menceritakan sejarah perusahaan pos di Indonesia.

B. Keistimewaan

Museum Pos Indonesia sangat cocok bagi Anda para pegila filateli, sebab museum ini memiliki sekitar 50 ribu lembar perangko dari sekitar 178 negara di dunia. Koleksi yang begitu kaya tersebut dikumpulkan sejak museum ini didirikan, yakni 1933 hingga sekarang. Selain dapat menikmati koleksi berbagai perangko, pengunjung juga dapat melihat benda-benda pos lainnya yang sarat akan nilai sejarah.

Di lantai pertama misalnya, wisatawan akan langsung disambut oleh pameran berbagai perlengkapan karyawan sejak jaman kolonial hingga sekarang. Di ruang pameran ini Anda dapat membandingkan perkembangan pakaian dinas karyawan pos, juga peralatan-peralatan pos yang sudah terlihat sangat kuno. Salah satu yang menyolok mata adalah patung tokoh pos Indonesia, yaitu Mas Soeharto. Mas Soeharto merupakan tokoh pos yang hilang karena diculik oleh Belanda. Patung tersebut menjadi salah satu upaya menghargai tokoh pos yang banyak berjasa pada perkembangan layanan pos di Indonesia ini.

Masih di lantai pertama, wisatawan juga diperlihatkan berbagai alat seperti timbangan surat, timbangan paket, kantong pos, stempel pos, kendaraan pengantar surat, serta peralatan-perlatan pos tempo dulu lainnya. Ada juga semacam replika yang menggambarkan para pegawai pos yang sedang bekerja. Penggambaran melalui replika ini sangat membantu untuk mengetahui seperti apa proses layanan pos pada jaman dahulu hingga sekarang. Sementara di sudut-sudut ruangan ditampilkan pula gambar-gambar proses pembuatan prangko, pencetakannya, hingga siap digunakan oleh konsumen.

Selain lantai pertama, ruang pamer lainnya adalah di lantai bawah tanah (basement). Di tempat inilah para pelancong dapat menyaksikan berbagai koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut diproduksi. Dari sekitar 50 ribu koleksi perangko, beberapa kelompok koleksi sengaja diberi pengaman khusus, seperti palang besi dan dikunci. Hal ini mengingat koleksi-koleksi tersebut terbilang kuno dan langka, sehingga jika dinilai dengan nominal uang, maka nilainya akan sangat mencengangkan. Bisa mencapai miliaran rupiah. Untuk menyaksikannya, wisatawan pun secara khusus harus didampingi petugas (http://cptshtia.blogspot.com).

Sebagian besar koleksi perangko istimewa di museum ini memang berasal dari Belanda. Hal ini tidak begitu mengherankan, sebab sedari awal museum ini memang didirikan oleh perusahaan pos milik Belanda. Meski demikian, tidak berarti Museum Pos Indonesia abai untuk memperlihatkan sejarah perangko dunia. Salah satu koleksinya berupa lukisan perangko pertama di dunia yang disebut “The Penny Black“. Perangko ini bergambar kepala Ratu Victoria dan diterbitkan pertama kali tahun 1840. Di samping lukisan perangko pertama itu, dipajang pula gambar Sir Rowland, pencipta perangko pertama tersebut yang semula merupakan pekerja di Dinas Perpajakan Inggris. Dalam keterangan yang tertera di museum, kita bisa tahu ternyata pada awalnya biaya pengiriman surat ditanggung oleh si penerima. Namun, sistem ini akhirnya dihentikan dan diganti karena pernah terjadi kasus penerima surat yang menolak membayar biaya pengiriman surat.

Selain sejarah perangko pertama di dunia, ada juga perangko pertama di Indonesia. Bentuknya bukan lukisan, melainkan perangko asli. Perangko yang terbit pada 1 April 1864 ini berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III. Harganya ketika itu sekitar 10 sen (http://cptshtia.blogspot.com).

Berbagai peralatan pos pada jaman dulu juga dipamerkan di lantai bawah tanah ini, misalnya berbagai macam bentuk bis surat yang dikumpulkan dari seluruh Nusantara. Kemudian ada juga gerobak besi kuno yang dahulu digunakan untuk mengangkut surat dari kantor pos ke stasiun kereta api. Sementara peralatan yang lebih modern adalah sebuah mesin penjual perangko otomatis. Namun sayang, mesin ini sudah rusak.

Koleksi lainnya yang juga cukup bernilai adalah poset-poster surat emas (golden letter). Poster-poster ini merupakan replika surat-surat kuno yang dibuat pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, dan Majapahit. Meskipun disebut surat emas, namun pada kenyataannya gambar poster tersebut tidak lagi menunjukkan kilau emas pada goresan huruf-hurufnya. Hal ini karena usia surat tersebut telah berabad-abad, sehingga ketika dibuat replikanya tidak lagi menunjukkan warna kemilau emas.

C. Lokasi

Museum Pos Indonesia terletak di sayap timur Gedung Sate, tepatnya di Jalan Cilaki, nomor 73, Bandung, Indonesia. Bangunan museum menyatu dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia.

D. Akses

Museum Pos Indonesia terletak di pusat kota Bandung, sehingga memudahkan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat ini. Wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Jakarta. Jarak antara Jakarta – Bandung terpaut sekitar 180 kilometer. Dari Jakarta, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Apabila menggunakan kendaraan umum, wisatawan bisa memilih menggunakan jasa kereta api atau menggunakan bus umum. Sesampainya di stasiun kereta api atau di terminal di Kota Bandung, Anda dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi menuju Gedung Sate. Dari Gedung Sate, Anda tinggal melangkahkan kaki menuju sisi timur gedung. Ada papan petunjuk kecil menuju museum ini. Jika bingung, Anda dapat bertanya kepada satpam atau pegawai di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Museum buka setiap hari dari Senin – Minggu pukul 09.00 – 16.00 WIB. Pada hari libur nasional museum ini tutup. Jika wisatawan ingin berkunjung dengan rombongan dalam jumlah besar, sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada pengelola museum melalui telepon 022-420195, pesawat 153. Konfirmasi kunjungan ini penting supaya pelayanan pengelola museum tetap maksimal.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Pos Indonesia tidak dipungut biaya (gratis).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Museum Pos Indonesia telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang pameran tetap, ruang perpustakaan, ruang gudang koleksi, ruang bengkel atau reparasi benda-benda koleksi, serta ruang administrasi. Selain itu, pengunjung Museum Pos Indonesia juga dapat meminta para petugas untuk mendampingi kunjungan, sehingga kunjungan Anda dapat lebih maksimal.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: